Mad City

Mad City (pic by IMDb

Tempo hari saya menonton sebuah film yang cukup inspiratif dan faktual jika dikaitkan dengan keadaan saat ini, film ini bercerita tentang seorang jurnalis senior televisi lokal dan liku-likunya dalam berburu berita tema general dari film ini sendiri yang saya baca adalah “kekuatan media” dalam menggiring opini masyarakat. Benar adanya media massa menurut saya sendiri merupakan alat paling sakti dalam mencapai tujuan menggiring opini publik, semua bisa dilakukan apalagi media sudah tidak lagi netral

Film ini dibintangi Dustin Hoffman yang berperan sebagai Matt Bracket seorang wartawan senior yang tersisihkan, berawal saat Matt bermaksud untuk meliput sebuah kegiatan di Museum kecil yang kurang terkenal dan hampir bangkrut ditemani sang juru kamera, namun setelah selesai mewawancarai sang manager Museum tiba-tiba datanglah Sam Bailey mantan satpam yang telah dipecat sebelumnya, tujuan Sam adalah untuk dipekerjakan kembali sebagai satpam di museum tersebut. Meski tidak berniat menggunakannya Sam membawa senjata dan satu tas dinamit dengan maksud agar sang manajer mau mendengarkan keinginan Sam, namun apa mau dikata sang manajer enggan mendengarkannya

karena kesal Sam menembakan senjatanya dan secara tidak sengaja mengenai Cliff rekannya sendiri yaitu satu-satunya satpam yang masih dipekerjakan di museum tersebut. saat kejadian ini berlangsung Matt sendiri sedang berada di toilet dan menyaksikan semua peristiwa ini, Naluri Matt sebagai seorang jurnalis muncul, dia segera menghubungi rekan-rekannyadan berniat memberikan laporan langsung mengenai peristiwa yang berpotensi menjadi berita besar yaitu penyanderaan anak-anak serta beberapa orang dewasa, karena kebetulan saat itu beberapa anak sedang berkunjung dari sinilah cerita sebenarnya dimulai.

Bagaimana seorang reporter bekerja bertindak sebagai pelaku atau wakil dari penonton, bagaimana Matt berusaha mati-matian agar Sam meski telah menembak secara tidak sengaja rekannya sendiri namun masih berkesempatan memperbaiki atau meraih simpati publik dengan menjelaskan secara langsung dihadapan televisi bahwa apa yang dilakukannya hanyalah karena dia menyayangi keluarganya dan tidak ingin menjadi pengangguran. Benar saja simpati kepada Sam berdatangan masyarakat mendukung Sam meski tidak mungkin mengelak dari hukum namun Sam bisa memperingan hukuman nanti saat di pengadilan dengan menceritakan kejadian sebenarnya. Dalam hal ini Matt berhasil menggiring opini publik bahwa Sam bukanlah orang jahat disisi lain Matt prediksi Matt juga benar berita ini menjadi sorotan utama

Kekacauan diimulai saat seorang news anchor (pembaca berita) yang terkenal yaitu Kevin Hollander bermaksud menukar berita potensial ini dari Matt dengan sebuah acara ekslusif acara televisi Nasional, namun sayang dengan alasan memberi berita yang seimbang tampaknya Kevin lebih cenderung ingin menjadikan Sam menjadi tokoh antagonis dalam cerita ini sehingga masyarakat membencinya, yang tentu saja ini akan lebih bernilai jual di televisi. Tentu saja hal ini bertentangan dengan tujuan Matt pada awalnya yaitu menyelamatkan Sam. Karena rasa simpatinya kepada Sam akhirnya wawancara ekslusif dengan Sam dari dalam Museum diberikan kepada  televisi lain yang lebih netral. karena sakit hati dan untuk menyelamatkan nama baik stasiun televisi serta dirinya Kevin membuat sebuah berita yang berbeda bahkan menyeret Matt didalamnya.

Ending dari film yang berjudul Mad City, ini adalah Sam Bailey akhirnya bunuh diri dengan meledakan dinamit yang ia bawa karena simpati masyarakat yang berkurang serta Cliff rekannya meninggal. Kata-kata terkahir dari Matt Bracket saat diwawancarai rekan-rekan wartawan yang saat itu berkumpul adalah “kita yang membunuhnya” siapa yang dimaksud kita dalam kalimat ini? Benar Media Massa  yang secara tidak langsung telah membunuh Sam Bailey.

Media memang alat yang betul-betul sakti dan itu berlaku dimanapun termasuk di Indonesia, Media massa bisa digunakan untuk membunuh, menyalahkan yang benar, membenarkan yang salah tergantung kepentingan sang pemilik kebijakan didalam media itu sendiri, kalau begini wartawan atau jurnalis sudah tidak netral lagi bukan ? dalam film ini iya, kalau di Indonesia entah.

Pada akhirnya adalah kita masyarakat yang menilai dan masyarakat pula yang harus lebih cerdas dalam menyikapi berita serta informasi yang diterima. Wallahualam